Tue. Sep 29th, 2020

KRISIS COVID-19: PERLU SEBUAH REFLEKSI ROHANI DALAM JIWA

2 min read

Oleh:Agustinus Firginus Kea (Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang)

KUPANG-JARRAKPOSKUPANG.COM
WABAH COVID-19 yang menimpah seluruh umat manusia merupakan sebuah fenomena yang perlu direfleksikan oleh setiap manusia. Virus ini telah menelan banyak korban jiwa yang hampir tersebar diseluruh dunia. Adanya COVID-19 telah mempengaruhi segala aktivitas kehidupan manusia saat ini. Sesuai dengan realita yang terjadi di tengah wabah ini, manusia dilanda ketakutan, kecemasan dan kegelisahan. Manusia berada dalam ketakutan yang besar yang sangat sulit untuk diobati.

Berpikir dan berkehendak adalah aktivitas bersifat rohani dan melebihi sifat yang sekedar badani. Sebuah kalimat yang sangat familiar dalam dunia para pemikir di era pertengahan yang diungkapkan oleh seorang filsuf ternama yaitu Thomas Aquinas. Berpikir dan berkehendak adalah sebuah proses refleksi dan terus menyadari apa yang sedang terjadi dalam diri manusia yang disebut oleh Aquinas sebagai pertautan antara jiwa dan tubuh. Manusia harus dilihat sebagai hubungan antara bentuk aktus (jiwa) dan materi (tubuh). Manusia mempunyai satu substansi yang menurut Aquinas mempunyai hubungan sedemikain rupa sehingga jiwalah yang membentuk badan (anima forma corporis).

Baca Juga :  MELIHAT CORONA VIRUS DARI KACAMATA HUKUM

Kalimat yang bernada imperatif menjadi sebuah awal dari refleksi pada situasi yang kita alami saat ini. Pemikiran yang sangat familiar oleh Aquinas sangat relevan dengan situasi yang dihadapi oleh seluruh umat manusia saat ini. Jiwa manusia terasa gelisah yang sangat berat. Jiwa manusia menjadi tidak nyaman dengan situasi ini yang menyebabkan tubuh terasa tak berarti bagi kehidupan manusia. Sebenarnya ini adalah rasa takut, cemas, dan gelisah yang menghampiri kehidupan manusia. Akibat bencana yang terjadi pada saat ini adalah sebuah arus yang membuhtuhkan sebuah kewaspadaan dalam diri setiap mansuia. Manusia harus menggunakan memoria jiwa untuk melihat dan memaknai situasi kritis saat ini. Jiwa butuh sebuah refleksi yang menghantar pada ketenangan batin dan kebahagian tubuh. Refleksi adalah kesempatan bagi kita untuk melihat dan menyadari serta memaknai semua hal yang sedang dialami saat ini. Manusia harus terus berefleksi untuk mampu menahan rasa cemas dan takut yang kita alami saat ini. Pada saat ini dalam setiap pemikiran manusia memandang wabah COVID-19 adalah sebuah keburukan yang dapat memusnahkan kehidupan manusia.Tetapi lebih dari itu manusia harus menyadari bahwa wabah ini mampu menjadikan manusia untuk perlu bereflkesi untuk melihat kembali dalam diri setiap pribadi manusia. Kita perlu sebuah usaha untuk penyadaran diri di tengah wabah yang terjadi saat ini.***

Baca Juga :  Mengedepankan Komunikasi Tulus Mampu Menyelesaikan Kesalapahaman

Jarrakposkupang.com/Mario Langun
Editor: Jering Buleleng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *