Jarrakposbengkulu.com Disusun Oleh :

Nama : Yesmon Napitupulu
NPM : E1J018080
Kelas : A
Mata Kuliah : Bioteknologi Pertanian
Dosen : Prof. Dr. Ir. Marulak Simarmata, M,Sc.

UNIVERSITAS BENGKULU

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Padi merupakan bahan makanan pokok untuk menghasilkan beras atau nasi yang mengandung zat – zat gizi yang dibutuhkan tubuh manusia terutama karbohidrat sebagai sumber energi karena beras mengandung zat penguat seperti : karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin ( Purwono dan Purnamawati, 2007 ).

Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan sebagai sumber energi yang umumnya dikonsumsi masyarakat Indonesia. Hampir separuh penduduk dunia, terutama di Asia menggantungkan hidupnya dari tanaman padi. Begitu pentingnya arti padi sehingga kegagalan panen dapat mengakibatkan gejolak sosial luas. Upaya peningkatan produksi tanaman pangan dihadapkan pada berbagai kendala dan masalah, antara lain kurangnya produktivitas tanaman padi akibat kurangnya usur hara pada tanah.

Salah satu upaya peningkatan produktivitas tanaman padi adalah dengan mencukupkan kebutuhan haranya. Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sebab unsur hara yang terdapat di dalam tanah tidak selalu mencukupi untuk memacu pertumbuhan tanaman secara optimal (Salikin, 2003).

Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus menyebabkan peranan pupuk kimia tersebut menjadi tidak efektif. Kurang efektifnya peranan pupuk kimia dikarenakan tanah pertanian yang sudah jenuh oleh residu sisa bahan kimia. Astiningrum (2005) menyatakan bahwa pemakaian pupuk kimia secara berlebihan dapat menyebabkan residu yang berasal dari zat pembawa (carier) pupuk nitrogen tertinggal dalam tanah sehingga akan menurunkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian. Menurut Sutanto (2006) pemakaian pupuk kimia yang terus menerus menyebabkan ekosistem biologi tanah menjadi tidak seimbang, sehingga tujuan pemupukan untuk mencukupkan unsur hara di dalam tanah tidak tercapai. Potensi genetis tanaman pun tidak dapat dicapai mendekati maksimal.

Selama ini petani cenderung menggunakan pupuk anorganik secara terus menerus. Pemakaian pupuk anorganik yang relatif tinggi dan terus-menerus dapat menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan tanah, sehingga menurunkan produktivitas lahan pertanian. Kondisi tersebut menimbulkan pemikiran untuk kembali menggunakan bahan organik sebagai sumber pupuk organik. Penggunaan pupuk organik mampu menjaga keseimbangan lahan dan meningkatkan produktivitas lahan serta mengurangi dampak lingkungan tanah.

Pupuk organik merupakan hasil dekomposisi bahan-bahan organik yang diurai (dirombak) oleh mikroba, yang hasil akhirnya dapat menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pupuk organik sangat penting artinya sebagai penyangga sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga dapat meningkatkan efisiensi pupuk dan produktivitas lahan.

Penggunaan pupuk organik padat dan cair pada sistem pertanian organik sangat dianjurkan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pemakaian pupuk organik juga dapat memberi pertumbuhan dan hasil tanaman yang baik. Rahmatika (2010) menemukan pengaruh yang sama antara perlakuan pemupukan urea 100% dibandingkan dengan penggunaan 100% nitrogen yang berasal dari azola pada tanaman padi. Hal serupa juga ditemukan Rohmat dan Sugiyanta (2010) yang meneliti kombinasi pupuk organik dan anorganik pada tanaman padi. Penggunaan pupuk organik 10 ton/ha dan pupuk anorganik (200kg Urea/ha + 100kg SP-36/ha + 100kg KCl/ha) mampu meningkatkan efektivitas agronomi jika dibandingkan hanya menggunakan pupuk anorganik. Hadi (2005) juga menyarankan memanfaatkan abu sekam sebagai alternatif pupuk organik sumber kalium pada budidaya tanaman padi sawah.

Penggunaan pupuk organik padat dan cair juga telah diteliti pada beberapa tanaman selain padi, seperti pada tanaman kentang (Parman, 2007), jagung manis (Rahmi dan Juniati, 2007) dan pada tanaman bawang merah (Wahyunindyawati, dkk, 2012). Penggunaan pupuk organik padat atau cair secara umum dapat digunakan sebagai substitusi pupuk kimia yang memberikan hasil yang baik.

Pada pertanian padi secara organik murni (tanpa penambahan pupuk anorganik) dianjurkan menggunakan kombinasi pupuk organik padat dan cair. Kombinasi ini berperan penting untuk saling melengkapi antara kelebihan dan kelemahan kedua pupuk organik tersebut. Pupuk organik padat yang diberikan lewat tanah perlu dikombinasikan dengan pupuk organik cair melalui daun, untuk memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi.
1.2. Rumusan Masalah
-Apakah pemberiaan pupuk organik pada tanaman padi dapat meningkatkan produktivitas hasil tanaman padi ?
– kombinasi apa yang terbaik antara pupuk organik padat dengan pupuk organik cair terhadap pertubuhan dan hasil tanaman padi.?
1.3. Tujuan penelitian
-untuk mengetahui pemberiaan apakah pupuk organik dapat meningkatkan produktivitas hasil tanaman padi
untuk menemukan kombinasi terbaik antara pupuk organik padat dengan pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi.

BAB II

PEMBAHASAN

Pupuk organik merupakan hasil dari penguraian bagian-bagian atau sisa (serasah) tanaman dan binatang, misalnya pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, bungkil, tepung tulang, dan lain-lain. Pupuk organik mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan jasad renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air, sehingga ke suburan tanah meningkat (Yuliarti, 2009).

Baca Juga :  TERAPKAN UJIAN SKRIPSI ONLINE, WAREK III UNDANA MINTA DOSEN-MAHASISWA PERSIAPKAN DENGAN BAIK

Pemberian pupuk anorganik dapat meningkatkan populasi bakteri dalam tanah. Dosis pupuk kandang nyata meningkatkan jumlah populasi bakteri dalam tanah. Tanah yang tidak diberi bahan organik populasinya cenderung rendah. Dalam penyerapan dan penyediaan unsur hara bagi tanaman, aktivitas bakteri sangat diperlukan untuk menjaga ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Ketersediaan bakteri sangat dipengaruhi oleh ketersediaan bahan organik dalam tanah. Kasno dan Setyorini (2008), mengatakan bahwa pemberian bahan organik mampu memperbaiki kualitas tanah, sehingga dapat memperbaiki sifat-sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Perlakuan penggunaan pupuk organik juga dapat meningkatkan populasi bakteri, dimana penggunaan pukan yang tinggi kepadatan populasi bakteri juga tinggi.

Menurut penelitiaan Sri wahyuni(2016) mengatakan bahwa  Pemberian pupuk anorganik saja sesuai dengan rekomendasi memperoleh hasil 4,3 t ha-1, namun perlakuan pemberian pukan 10 t ha-1 yang ditambah dengan pupuk NPK rekomendasi produksi tanaman padi Impari 13 bisa mencapai 7,0 t ha-1 atau produksinya setara dengan perlakuan pemberian pukan 20 t ha-1 yaitu sebesar 7,0 t ha-1 . Respon tanaman padi terhadap unsur hara nitrogen, fosfor, dan kalium sangat dipengaruhi oleh penggunaan bahan organik (Makarim dan suhartatik, 2009). Pemberian pupuk kandang 20 t ha-1 dan NPK rekomendasi meningkatkan hasil gabah padi gogorancah dibandingkan dengan pemupukan NPK rekomendasi saja dari 4,6 ton ha-1 menjadi 7,3 t ha-1 . Artinya adalah pemberiaan pupuk organik dapat meningkatkan hasil produktivitas tanaman padi. Pupuk organik cair merupakan salah satu jenis pupuk buatan saat ini banyak beredar di pasaran. Umumnya pupuk organik cair merupakan ekstrak bahan organik yang sudah dilarutkan.

Munaswar (2003) memaparkan pupuk organik cair dapat diaplikasikan melalui daun atau disebut sebagai pupuk cair foliar, yang pemberiannya langsung ke daun tanaman, sehingga penyerapan hara melalui stomata berjalan cepat dan hara dapat langsung terserap. Namun ada pula pupuk organik cair yang digunakan langsung pada tanah. Pupuk ini akan diserap oleh akar dan nutrisinya dapat digunakan oleh tanah. Penggunaan pupuk organik cair diklaim dapat memperbaiki sifat fisik tanah dan lebih praktis, padahal aplikasi pupuk organik cair paling optimal adalah langsung disemprotkan pada daun sehingga dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman melalui stomata. Pupuk yang diaplikasikan ke tanah harus melalui akar penyerapannya, dan membutuhkan proses lebih lama dibandingkan dengan pupuk daun (Lingga, 2007).

Berdasarkan penelitiaan yang dilakukan Inyoman supratman (2012 ) mengatakan bahwa Hasil Gabah Kering Panen (GKP) per hektar sangat nyata dipengaruhi oleh perlakuan yang diberikan. Perlakuan kombinasi pupuk yang diberikan dapat meningkatkan bobot gabah kering panen per hektar sebanyak 4,40% – 17,36 % dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Perlakuan pupuk organik padat Shisako 2,5 ton/ha + pupuk organik cair Solbi Agro dapat meningkatkan bobot gabah kering panen per hektar sebesar 4,40 %, perlakuan pupuk organik padat Shisako 2,5 ton/ha + pupuk kandang ayam 5 ton/Ha meningkatkan sebesar 8,56 %, perlakuan pupuk organik padat Shisako 2,5 ton/Ha + pupuk organik kandang ayam 5 ton/Ha meningkatkan sebesar 12,5 %, dan perlakuan pupuk organik padat Shisako 2,5 ton/Ha + pupuk organik AA-01 meningkatkan bobot gabah kering panen per hektar sebesar 17,36 %. Berdasarkan hasil tersebut, hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan pupuk organik padat Shisako 2,5 ton/Ha yang ditambah pupuk organik AA-01. Pupuk organik AA-01 memiliki kandungan asam amino yang lebih banyak yaitu sekitar 20 % dibandingkan dengan perlakuan pupuk cair Budd Terra, pupuk organik cair Solbi Agro, dan pupuk kandang ayam. Fungsi utama asam amino adalah sebagai bahan dasar pembentukan protein yang selanjutnya akan digunakan untuk pertumbuhan tanaman (fungsi struktural) dan enzim (fungsi metabolisme). Asam amino ini dapat meningkatkan jumlah klorofil dalam tanaman, meningkatkan aktivitas fotosintensis, dan meningkatkan pertumbuhan akar. Asam amino juga dapat mengatur stomata secara optimal dengan mengendalikan transpirasi tanaman dan meningkatkan reduksi karbondioksida yang akan diubah menjadi karbohidrat yaitu berupa hasil gabah.

Kandungan hara mikro dan makro yang terkandung dalam pupuk AA-01 dapat menyebabkan peningkatan pertumbuhan tanaman serta mampu meningkatkan hasil gabah tanaman padi, karena unsur hara tersebut memiliki peran yang cukup besar dalam pertumbuhan dan hasil tanaman. Hal ini dapat diketahui dari fungsi masingmasing unsur hara tersebut. Unsur hara mikro berfungsi sebagai activator system enzim atau dalam proses pertumbuhan tanaman, seperti fotosintesis dan respirasi. Begitu juga dengan kandungan hara makro yang cukup tersedia bagi kebutuhan tanaman, dapat meningkatkan panjang malai serta mampu meningkatkan hasil gabah tanaman padi, karena unsur hara tersebut memiliki peran yang cukup besar dalam pertumbuhan dan hasil tanaman.

Menurut Nurjaya dan Setyorini (2009) yang meneliti substitusi pupuk kimia dan pupuk organik cair pada tanaman padi sawah berpendapat bahwa menggantikan pupuk urea secara umum dapat menggunakan pupuk organik cair. Substitusi ini mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi, jumlah anakan, dan bobot jerami yang setara dengan pemberian pupuk NPK. Peneliti lain, Sulistyawati dan Nugraha (2008) melaporkan bahwa kompos sampah organik dapat menggantikan penggunaan pupuk kimia sampai 50% dari dosis standar pada tanaman padi. Pada dosis pemupukan tersebut produktivitas padi dapat dipertahankan. Unsur hara N berperan penting pada fase pertumbuhan dan generatif tanaman. Henry (1988, dalam Facthur dan Sugiyanti, 2009) menyatakan bahwa nitrogen yang terdapat di dalam pupuk organik padat tersedia perlahan-lahan bagi tanaman. Adanya penambahan pupuk organik cair yang diharapkan dapat mengatasi kekurangan dari pupuk organik cair dari pupuk organik padat, ternyata tidak berpengaruh nyata terhadap tanaman tetapi dapat meningkatkan hasil gabah.

Baca Juga :  Peringati Hari Juang TNI AD ke-74 & HUT NTT ke-61, Kodim 1604/Kupang Selenggarakan Raknamo Fun Run 5 KM 2019

Pemberian pupuk organik cair pada tanaman padi diduga akan mempercepat sintesis asam amino dan protein sehingga mempercepat pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Poerwowidodo (1992, dalam Hadi, 2005) bahwa pupuk organik cair mengandung unsur kalium yang berperan penting dalam setiap proses metabolisme tanaman, yaitu dalam sintesis asam amino dan protein dari ion-ion ammonium. Unsur kalium juga berperan dalam memelihara tekanan turgor dengan baik sehingga memungkinkan lancarnya proses-proses metabolisme dan menjamin kesinambungan pemanjangan sel.

Poerwowidodo (1992, dalam Hadi, 2005) menyatakan bahwa unsur Fosfor berperan dalam menyimpan dan memindahkan energi untuk sintesis karbohidrat, protein, dan proses fotosintesis. Senyawa-senyawa hasil fotosintesis disimpan dalam bentuk senyawa organik yang kemudian dibebaskan dalam bentuk ATP untuk pertumbuhan tanaman. Asam humat dan asam folat serta zat pengatur tumbuh yang terkandung dalam pupuk organik cair akan mendukung dan mempercepat pertumbuhan tanaman.

BAB III

PENUTUP

3.1 . Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapat dari karya ilmiah ini adalah sebagai berikut : Pemberiaan pupuk organik sangat mempengaruhui produktivitas hasil  tanaman padi terbukti dari penelitiaan yang dilakukan oleh Sri wahyuni(2016) yang mengatakan bahwa  Pemberian pupuk anorganik saja sesuai dengan rekomendasi memperoleh hasil 4,3 t ha-1, namun perlakuan pemberian pukan 10 t ha-1 yang ditambah dengan pupuk NPK rekomendasi produksi tanaman padi Impari 13 bisa mencapai 7,0 t ha-1 atau produksinya setara dengan perlakuan pemberian pukan 20 t ha-1 yaitu sebesar 7,0 t ha-1 . Respon tanaman padi terhadap unsur hara nitrogen, fosfor, dan kalium sangat dipengaruhi oleh penggunaan bahan organik (Makarim dan suhartatik, 2009). Pemberian pupuk kandang 20 t ha-1 dan NPK rekomendasi meningkatkan hasil gabah padi gogorancah dibandingkan dengan pemupukan NPK rekomendasi saja dari 4,6 ton ha-1 menjadi 7,3 t ha-1 . jadi dari hasil ini bisa disimpukan bahwa pemberiaan pupuk organik sangat berpengaruh terhadap produktivitas hasil tanaman padi.

Perlakuan kombinasi pupuk organik padat dan pupuk organik cair tidak nyata mempengaruhi variabel pertumbuhan tanaman, tetapi nyata mempengaruhi hasil tanaman padi. Penambahan pupuk organik cair pada pertanaman padi sistem pertanian organik mampu meningkatkan hasil gabah kering panen sebesar 4,4% – 17,4%. Hasil gabah kering panen dan hasil gabah kering oven tertinggi diperoleh pada penambahan pupuk AA-01 (5,07 ton/Ha GKP, dan 3,94 ton/Ha GKO)

Daftra Pustaka

Astiningrum, M. 2005. Manajemen Persampahan, Majalah Ilmiah Dinamika Universitas Tidar Magelang 15 Agustus 2005.

Magelang 8 hal. Hadi. P. 2005. Abu Sekam Padi Pupuk Organik Sumber Kalium Alternatif pada Padi Sawah. GEMA, Th. XVIII/33/2005. Hal 38 – 45

Nurjaya dan Setyorini. D. 2008. Peranan Pupuk Organik Sipramin sebagai Substitusi Pupuk N terhadap Sifat Kimia Tanah dan Hasil Padi Sawah pada Inceptisol. Makalah Seminar, Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB. Hal 285 – 296

Purwono, L. dan Purnamawati. 2007. Budidaya Tanaman Pangan. Penerbit Agromedia. Jakarta.

Rahmi dan Jumiati. 2007. Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair Super ACI terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Manis. WARTA Jurnal Penelitian Pertanian

Rahmatika, W. 2010. Pertumbuhan Tanaman Padi (Oryza sativa.L) Akibat Pengaruh Persentase N (Azolla dan urea). Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB. Hal 84 – 88.

Rohcmah, H. F. dan Sugiyanta. 2010.. Pengaruh Pupuk Organik dan Anorganik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah (Oryza sativa L.). Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB.

Salikin, K. A. 2003. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta

Sri wahyuni. 2016. Aplikasi Jenis Pupuk Organik pada Tanaman Padi Sistem Pertanian Organik. Jurnal Agroekoteknologi Tropika.

Sulistyawati. E dan Nugraha. R. 2007 Efektivitas Kompos Sampah Perkotaan Sebagai Pupuk Organik Dalam Meningkatkan Produktivitas dan Menurunkan Biaya Produksi Budidaya Padi. Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati – Institut Teknologi Bandung.

Sutanto, R. 2006. Penerapan Pertanian Organik (Pemasyarakatan dan Pengembangannya). Penerbit Kanisius. Yogyakarta

Wahyuningdyawati, Kasijadi, F. dan Abu. 2012. Pengaruh Pemberian pupuk Organik “Biogreen Granul” Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah. Journal Basic Science and Technology, 1(1) 2012. Hal 21 – 25.

 

Editor: B.N.S

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here